JAKARTA — Universitas Islam Aceh (UIA) Paya Lipah, Bireuen, hadir mewakili perguruan tinggi keagamaan Islam swasta (PTKIS) asal Aceh dalam perhelatan The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) RI di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, 21–23 Oktober 2026.
Konferensi ekonomi kreatif tingkat dunia yang dihadiri 1.395 peserta dari 51 negara, tujuh organisasi internasional, serta 80 delegasi negara ini mengusung tema “Inclusively Creative: Collective Continuity”. Forum internasional ini menghasilkan kesepakatan Jakarta Vision on Creative Economy sebagai landasan resolusi ekonomi kreatif global pasca-SDGs 2030 di tingkat PBB.
Menteri Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya, menyampaikan bahwa pengembangan ekonomi kreatif nasional harus didasarkan pada kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy), pemetaan ekosistem yang presisi, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
“Potensi ekonomi kreatif harus didukung data yang kuat untuk memahami ekosistem, mengidentifikasi kesenjangan, dan mengarahkan kebijakan yang lebih tepat. Pertumbuhan saja tidak cukup; kita ingin para kreator memperoleh nilai ekonomi yang lebih besar dari karya dan kreativitasnya,” ujar Riefky.
Berdasarkan laporan Indonesia Creative Economy Outlook 2026–2027, sektor ekonomi kreatif Indonesia sepanjang tahun 2025 tumbuh sebesar 6,8 persen, menyerap 27,4 juta tenaga kerja, dan menyumbang nilai ekspor mencapai USD 31,9 miliar.
Sebagai langkah konkret penguatan kapasitas SDM, Kemenekraf menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama 30 perguruan tinggi dan peluncuran platform Ekraf Academy. Platform ini dirancang untuk memfasilitasi pengembangan talenta melalui tiga pilar, yakni creative leadership, creative talent, dan creative entrepreneurship.
Selain itu, Kemenekraf turut mengembangkan Creative Economy Data Model serta menjalin kemitraan strategis internasional bersama World Intellectual Property Organization (WIPO) dan Tencent guna mendorong komersialisasi serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) pelaku kreatif Indonesia di pasar global.
Rangkaian inisiatif ini menjadi landasan operasional dalam mendukung pencapaian Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026–2045 untuk mewujudkan ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

UIA Perkuat Sinergi Hexahelix di WCCE
Kehadiran UIA di ajang WCCE 2026 yang diwakili langsung oleh Rektor UIA, Dr Nazaruddin MA, tidak lepas dari rentetan capaian institusional kampus. Selain baru meluluskan 227 sarjana dan magister pada 20 Oktober 2026, UIA tercatat sebagai PTKIS Terbaik se-Aceh tahun 2026 serta memiliki Program Studi S1 Ekonomi Syariah berpredikat Akreditasi Unggul dari LAMEMBA.
Rektor UIA Dr Nazaruddin, menegaskan komitmen institusi dalam menyinergikan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan pengembangan ekonomi kreatif, khususnya pada sektor ekonomi syariah, manajemen pendidikan Islam, serta wirausaha digital berbasis kearifan lokal.
“Keikutsertaan UIA dalam ajang WCCE 2026 ini menjadi momentum strategis bagi kampus untuk menyelaraskan kurikulum dan riset di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI)—seperti mata kuliah wirausaha digital, fintech, dan industri kreatif—dengan kebutuhan ekosistem ekonomi kreatif nasional maupun global,” ujar Nazaruddin di sela-sela kegiatan.
Melalui keikutsertaan dalam WCCE 2026, UIA berkomitmen memperluas kolaborasi riset dan pengabdian masyarakat guna mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat di tingkat gampong dan pesantren.










Belum ada komentar